Rencana mempostingkan hasil tulisan-tulisan selama long wiken menjadi tertunda disebabkan monitor kompiku tutup usia. Walau perasaan jengkel berkecamuk didalam diri dengan sedikit mengumpat, kutenangkan hati dan pikiranku sejenak..... sambil menunggu rencana jahatku muncul. Aha, kayaknya monitornya ex pacarku bisa neeh kupindahin ke kost sampai monitor ini bisa sembuh setelah kubawa ke tukang ketok magic.... ups, lho koq@#***
"Revolution for Freedom and Humanity"
Cuma sekedar berbagi pandangan mata, hati, batin dan pikiran yang selama ini menjadi kemelut untuk sebuah transformasi dan pencerahan karena perjuangan untuk reformasi adalah sarananya, revolusi sosial tujuannya!
Monday, August 21
Monday, August 14
Malam Minggu Isinya : Buku, Diskusi, Listrik Mati dan Bebex
Malam minggu kemarin, kuputuskan untuk sekali lagi hunting buku-buku baru dan bermutu. Kali ini, kakiku membawa tubuhku ke DTC dan segera saja kudapatkan 5 buku mengenai wacana kapitalisme dan globalisasi, 2 buku tentang budaya dan feminis, 1 buah buku membahas studi budaya dan komunikasi, 1 buku tentang studi post kolonial serta 1 buah buku tentang pelatihan partisipatif untuk pemberdayaan (Buku saya lihat di http://gudangbuku.blogspot.com).
Setelah isi tas penuh dengan kumpulan kertas, tak ada lagi tempat terbaik yang dapat kutuju selain sedikit bersenda gurau dengan Pak Yanto, di bekas perumahanku dulu. Disana, pembicaraan kami pun menyerempet dari hal-hal aktual seperti pengemboman Israel terhadap Lebanon, nasionalisme negara-bangsa berkaitan dengan 17 agustusan sampai dengan globalisasi!. Hehe… lagi-lagi globalisasi, wekkk! Setelah puas berdialektika dan transformasi wacana, kuputuskan pulang karena badan sudah mulai kelelahan, sepertinya.
Eh, sesampainya di kost ternyata gelap gulita tidak ada penerangan sama sekali. Lilin yang sejak jauh-jauh hari sudah kupersiapkan ternyata berguna juga namun karena sepi tak ada pilihan lain selain melakukan satu hal yakni nge-sms bebexxx. Pikirku, anak ini bisa bikin ribut dan jadi korbanku selama listrik padam. Benar saja, bebexxx bisa membuatku ngakak “gila, ngocol abis ni anak” ucapku. Umpan yang kuberi ternyata dimakan dan semua kata-kataku dibantai tidak tersisa, emang bebexxx cocok jadi pelawak.
Makasi ya bex, udah banyak nolongin cuma kapan neeh template-nya jadi?. Bebex merupakan sukarelawan yang hendak mengutak-atik template blog ini… hehe, awas bex kalo jadinya jelek, gw bakar jadi bebex panggang baru tahu rasa :D
Liverpool; You’ll Never Walk Alone!
Payah, ternyata perhelatan akbar laga Chelsea vs Liverpool dalam FA Community Shield (juara EPL vs juara FA Cup) di pre-season, tidak disiarkan secara langsung oleh ANTV. Hanya bisa menunggu hampir tengah malam untuk bisa menyaksikan walau begitu tidak mengurangi kegiranganku tuk berteriak "gooollll!!!" ketika pemain Liverpool menjaringkan bola meski sedikit mengurangi volume suara karena sudah dini hari dan sebelah kamarnya ibu kost. Rafa, salut deh sekali lagi pasukanmu mampu mematikan pergerakan pemain Chelsea sehingga tidak berkembang. Liverpool, top abis deh!!!
Thursday, August 10
Bebex dan Kucing
Saat sedang blogwalking di blognya bebexxx, kulihat kucing-kucing kesayangannya sedang dipamerkan dengan berbagai macam tentunya. Tanpa emosi, datar kuucapkan “byebye cattje!”. Dahulu, semenjak kecil di Balikpapan, aku memelihara kucing walau kemudian sempat diusir kala itu karena masih balita, diriku sudah mengidap alergi terhadap bulu kucing, poshugo, kata orang manado. Ketika SD, SMP sampai dengan SMU-pun, aku masih memelihara kucing bahkan pernah pada suatu ketika, tepatnya diriku berumur 4 SD membawa beberapa kucing kecilku untuk di kebiri, alias diambil testisnya agar kucingku nantinya jinak (saat dewasa baru sadar, tindakan ini tidak saja penundukkan majikan terhadap budak peliharaannya akan tetapi juga tidaklah ada bedanya dengan pemotongan klitoris pada perempuan guna membatasi kenikmatannya dan inilah penjajahan kaum patriarkhi di Arab atas nama agama). Hal ini kulakukan berulang-ulang sampai akhirnya diriku kena batunya mungkin kurang hati-hati, anak kucing itu menggigitku. Untuk mengantisipasi rabies dan penyakit lainnya yang dapat ditimbulkan akhirnya aku dibawa ke dokter. Tak lama berselang setelah itu, saat aku bermain di tempat teman, aku digigit lagi oleh monyet. Bukannya sakit itu yang kukeluhkan akan tetapi satu hal yang paling kubenci yakni jarum suntik!.
Ternyata, dalam segala hal diriku telah melupakan hal mendasar sesuai dengan anjuran Marx dalam tesis kesebelas terhadap Feuerbach: "Die Philosophen haben die Welt nur verschieden interpretiert, es kommt aber darauf an, sie zu veranderen" (Para filsuf telah menafsirkan dunia hanya secara berbeda-beda, namun yang terpenting adalah mengubah dunia itu). Bertindaklah aridhant, bertindaklah!!!
Kabut Asap
Berita mengenai pembakaran lahan dan hutan tiap tahunnya yang mulai memasuki musimnya pada tahun ini kembali menyisakan kenangan menyedihkan mengenai masa-masa SMA-ku di Palangkaraya. Bukan karena ditempat itu pulalah nyawaku hampir saja melayang yang disebabkan kecelakaan sepeda motor akibat ngebut, bukan itu melainkan karena ditempat itu pulalah, diriku mengalami fenomena mengherankan bagiku yakni kabut asap. Hal ini sangatlah baru bagiku, tak pernah kulihat dengan mata kepala sendiri sebelumnya, kabut asap itu hanya berjarak pandang 1 meter saja disiang hari bolong.
Pada awal kemunculan kabut asap, dipagi hari hawa justru sangat dingin layaknya berada di pegunungan seperti yang kurasakan saat berada di Langowan dan Tomohon, di Minahasa sehingga ketika sampai di sekolah, alis, dagu maupun wilayah sekitar kumis ada es-nya. Namun, setelah berselang beberapa minggu, hal tersebut tidak pernah lagi terjadi justru pakaian yang berwarna putih seluruhnya berubah menjadi warna kuning meskipun sudah direndam oleh pemutih sekalipun dan hawa dingin itupun telah digantikan oleh hawa panas berkarbondioksida. Oleh karenanya, tanpa bermaksud untuk mengutuk daerah yang ada pembakaran lahannya sehingga menghasilkan kabut asap namun hendaknya pemerintah bersungguh-sungguh didalam menangani kejadian ini.
Dalam laporan yang disampaikan oleh Walhi maupun beberapa dokumen yang dipublikasikan oleh LSM lokal, kejadian ini yang dahulunya dilakukan oleh masyarakat setempat untuk membuka lahan justru sekarang sudah didominasi oleh korporasi-korporasi yang memang mendapatkan keuntungan berlebih dari hal ini. Tanpa mengeluarkan ongkos sesen pun seperti ongkos pemotongan rumput dsb, lahan-lahan yang akan ditanami kembali dibakar guna musim tanam berikutnya. Lahan yang terletak di Kalteng, Jambi dan Riau sendiri merupakan tanah gambut yang hanya menyiram api diatas permukaan tanah tidaklah cukup karena bara api masih hidup didalam tanah. Itulah sebabnya mengapa hanya dengan air saja untuk mematikan nyala api tidaklah cukup, perlu juga jeruji besi dihotel prodeo guna memenjarakan pemilik lahan yang rata-rata dikuasai oleh korporasi!.
Saya memang tipe manusia yang suka bermimpi, bukan mimpi yang kudapatkan tatkala tertidur pulas, bukan! Mimpi semacam itu sangat jarang terjadi pada diriku. Mimpi yang kuinginkan kurasa juga dialami oleh mereka yang selalu mendambakan taman surgawi dunia yang damai, bebas dari logo dan iklan, perbedaan sebagai rahmat dan kemakmuran adalah hal yang bukan lagi mimpi namun sudah terjadi. Bagaimana bisa hal diatas terjadi jika watak dasar manusia sebagai penindas dan eksploitatif selalu dikembangkan?. Penyadaran kawan, sadarkan mereka!.
Lumpur Emangnya Bencana?
Tak lama lagi musim hujan kembali menyapa kota ini sementara luapan Lumpur yang ditangani oleh PT Lapindo sampai dengan saat ini belum ada hasilnya sama sekali. Tak bisa kubayangkan bagaimana jadinya apabila musim hujan mulai membanjiri kota ini sedangkan belum ada kemajuan berarti untuk mengatasi luapan Lumpur termasuk hancurnya tanggul penahan Lumpur akibat meluapnya debit air bercampur Lumpur. Saat ini saja, ketinggian Lumpur sudah mencapai 5 meter lebih, jauh melewati rumah warga disekitar lokasi.
Diriku tidak bisa lagi membayangkan ketika Lumpur tersebut dibantu air hujan sedikit demi sedikit menenggelamkan kota Surabaya. Padahal, dalam ramalan Jayabaya yang kemudian diinterpretasikan oleh seorang pengamat budaya bahwa justru ibukota yang akan berpindah terlebih dahulu. Sejalan dengan hal tersebut, dengan nada bercanda, ia mengatakan Surabaya merupakan kandidat terkuat ibukota berikutnya apabila kondisi force mayeur memaksanya pindah. Ah, Lumpur ini menghilangkan kemungkinan Surabaya untuk mencalonkan dirinya.
Padahal, jika dikaji lebih mendalam sebenarnya ku anggap keluarnya lumpur ini tak terlepas dari salah perhitungan terhadap pengeboran itu sendiri sedangkan sebagaimana yang kita ketahui bahwasanya bermil-mil jauhnya didalam tanah ini banyak sungai-sungai bahkan danau yang diisi tidak hanya oleh kekayaan alam berupa minyak bumi, gas dan sebagainya tetapi juga oleh lumpur yang kandungannya dapat saja membahayakan manusia. Atas dasar asumsi inilah, dahulu ketakutanku pernah memuncak saat masih tinggal di balikpapan mengingat beberapa kali diriku mendengar kasus amblasnya tanah setelah isi diperut bumi habis dikuras. Hehe… ketakutan masa kecil yang tak beralasan walaupun menurutku itu niscaya. Sekarang saja, tanggul itu sudah jebol apalagi musim hujan?.
Buku Bagi Suplemen Otak
Semalam, tanpa memperdulikan kondisi keuangan yang semakin menipis, kuberanikan diri menuju ke salah satu toko buku yang terletak di jalan raya ngagel untuk menyalurkan satu-satunya budaya kapitalistik yang tetap dengan bangganya kupertahankan yakni membeli buku. Setelah sekian lamanya tidak pernah menginjakkan kakiku ditoko buku maka dengan menghidupkan budaya pop konsumerisme ini, kucari lagi buku-buku yang dapat merangsang daya dialektika, suplemen otakku mengingat pertumbuhan yang lain sudah berhenti ketika diriku sudah melewati masa puber. Setelah kira-kira 15 menit berlalu, 6 buah buku sudah kugenggam ditangan antara lain; 2 buku mengenai wacana Marxian, 2 buku tentang social movement serta 2 buku sisanya spesifikasi wacana feminis dan eksistensialis.
Dalam hati sambil kutatap buku ini, kumerengut “sampai sekarang, pemerintah tidak pernah mau peduli untuk menurunkan harga kertas, sebagai konsumen aku protes, daya beliku terbatas, mencari ilmu saja harus membeli dengan harga mahal!” umpatku. Tetap saja setelah mengeluarkan sejumlah biaya dihadapan kasir, kulengangkan badan ini menuju tempat parkir dengan sedikit cengiran membayangkan betapa otakku akan kembali memulai perdebatan dengan membagi kedalam dua belah kubu yang saling bertentangan dan mendialektikakan diskursus baru sementara mataku bersinar-sinar riang menatap buku serta membaca abjad-abjad yang harus dicerna lagi dipikiranku. Tukang parkir yang sedari tadi memperhatikan tingkah polahku tersenyum simpul, mungkin ia beranggapan “satu lagi orang setelah membeli buku jadi gila”. Aku sendiri tanpa peduli, segera tancap gas mengarahkan kendaraanku menuju arah jalan manyar, mencari toko buku yang lain lagi guna menemukan buku baru yang tidak terdapat di toko buku pertama. Lagi, kutemukan 1 buku tentang studi Marxian, 1 buku mengenai social movement dan 1 lainnya diskursus post modernist. Pfffff….. lega!.
Tuesday, August 8
Pesonamu, Alamku
Pagi itu kulangkahkan kakiku ditengah-tengah petak sawah. Kabut yang masih menyelimuti tak menyurutkan nyaliku untuk merasakan dinginnya hawa pedesaan. Sementara sinar sang mentari mulai tersenyum dan sedikit demi sedikit keceriaan pagi, hangat mulai menggantikan senyapnya malam bersamaan dengan riangnya burung berkicau. Kuhentikan perjalananku sejenak dan memutuskan duduk diatas sebuah batu besar yang atasnya pipih. Kuhirup udara pagi sekali lagi dalam-dalam, kurasakan nikmatnya aroma kedamaian alam yang sudah sangat lama tak pernah kudapatkan lagi, yaa! Sudah terlalu lama diriku pergi.
Perjumpaanku ini mengingatkanku pada diriku yang masih sering bermain diatas tanah sawah ini pada usia 6 tahun. Masa dimana tanah disini begitu subur dan masih sangat alami tumbuh bersama bulir-bulir padi mulai menguning, kesukaan burung-burung. Kadang, kubantu Petani yang menjaganya sekuat tenagaku, sukarela tentunya namun tidak sekuat orang-orangan sawah. Kuingat pula dengan jelas, kuluangkan waktuku memancing ikan ditelaga, hmm.. masa dimana memancing adalah hobi karena ikan yang bisa kudapatkan memang sebesar telapak tanganku sekarang bukannya memancing di parit-parit kota besar yang ikannya hanya segemuk jari jempolku saja, itulah alasan kemudian mengapa diriku membenci memancing ikan selain membuang-buang waktu tentunya.
Diatas batu ini dan telaga yang terhampar didepan mataku inilah, pernah banyak ku habiskan waktu bersenda gurau bersama teman sepermainanku sambil menarik-narik kangkung air yang merambat memenuhi permukaan telaga, menyembunyikan ikan-ikan bergerak liar bebas. Apalagi ketika tiba masanya pembukaan telaga guna memanen hasil ikan, wow, senangnya hatiku bisa menangkap banyak ikan dari ikan mas sampai ikan terkecil nila, berguling-guling dikotornya becek Lumpur, oh, keriangan yang belum pernah kuulangi lagi.
Namun, ingatan ini membawaku pada kejadiaan menyedihkan saat kedua anak Om Antje, begitulah kupanggil dirinya, pekerja di perkebunan kami yang telah lama bekerja untuk kami dan tinggal bersama keluarganya, meninggal dunia tenggelam saat bermain disekitar telaga. Begitulah, musibah datang tak pernah kita duga dan sangka. Hal itu juga membuatku trauma pada air selama beberapa waktu walau sebenarnya ketakutanku itu juga disebabkan hal lain yaitu berkat kenakalanku, pernah aku dimasukkan ke dalam tandon selama beberapa menit… hehe, ayahku tak sejahat itu koq.
Kembali lagi, lamunanku hilang segera tak berbekas. Kini, setelah kabut perlahan menipis dan hanya menyisakan segarnya embun pagi, kutatap jelas areal persawahan ini telah berubah banyak. Di kanan kiri kusaksikan bangunan kokoh sebagian telah berubah fungsi dari gudang sampai dengan pabrik. Oh, peradaban alamiah tradisional itu telah tergantikan dengan kebudayaan modern. Sebuah realitas yang terbangun mendesak dan memojokkan indahnya alam. Petak sawah itu telah hilang, tanah ini tak terawat, ilalang dan rerumputan tinggi sudah menjadi sarang ular, menunggu datangnya Tuan baru membawa tiang pancang. Tiba-tiba, kakiku terperosok kedalam bekas kubangan kecil. Berlawanan dari niatku untuk memaki, aku pun tertawa sekeras-kerasnya memngingat betapa seringnya sepatuku belepotan lumpur sawah bahkan terjatuh di sawah untuk menghindari hukuman disebabkan keterlambatanku sewaktu masih bersekolah di SMP yang kebetulan letaknya hanya 100 meter saja dari rumahku dan melewati ranah sawah ini tentunya. Tergelak, diriku sudah menikmati kehidupan di pedesaan dan perkotaan dimasaku menuntut ilmu dalam penjara yang bernama sekolah. Kuhembuskan nafasku guna kugantikan dengan hawa sejuk ini, ahh… andai bunga hadir disini bersamaku menyaksikan keagungan anugerah ilahi yang telah dirusak manusia, ahh… seandainya, kuberharap lagi, suatu kesalahan yang selalu kuulangi kembali!
Tahukah kau,
Dirimu adalah hadiah terindah dalam hidupku
Tawamu memberiku ketenangan
Tak pernah kudapatkan hal itu sebelumnya
Lama sudah ingin kudengar lagi suara itu,
Saat kau rebahkan dan sandarkan tubuhmu dalam bayanganku
Saat kau percayakan diriku menjagamu dalam keheningan
Saat kau memilihku tuk merasakan rapuh dan hangatnya tubuhmu
Bukan rencana dan strategi yang membuat kita hebat, sayang
Namun kebersamaan yang membuat kita bertahan sampai dengan sekarang
SPMB sampai ke MK
Kesibukan yang terjadi hari sabtu kemaren, tatkala banyak lulusan SMU dan sederajatnya beserta orang tuanya yang ingin melihat hasil ujian SPMB anaknya melalui berbagai macam media baik yang tersaji secara online diinternet, media koran maupun langsung datang ke Universitas yang dimaksud untuk mencari tahu apakah anak-anak mereka berhasil lulus dan masuk pada Universitas yang mereka inginkan. Tiba-tiba saja, kubiarkan memoriku membawa pada kesadaran bertahun-tahun yang lalu dimana hari-hari diriku memulai persiapan ikut UMPTN agar bisa di terima di Universitas yang kuinginkan. Saat itu, di Palangkaraya tak lama berselang pengumuman kelulusan SMU, diriku dan beberapa teman-teman sekelasku mencoba peruntungan dengan mengikuti Uji Coba UMPTN yang diselenggarakan oleh salah satu ormas. Mengingat masih buta-buta balok alias tidak tahu apa-apa dengan bermodalkan pencil dan penghapus ku ikuti uji coba itu. Alhasil, tanpa disangka namaku memang termasuk di urutan pertama dengan nilai tertinggi.
Tentunya dengan perasaan pede ku berangkat ke Surabaya untuk mengikuti UMPTN agar bisa diterima di Universitas Airlangga dan mengisi pilihan pertama kutimpakan pada ilmu hukum mengingat kakakku juga lulusan hukum sedangkan pilihan kedua kujatuhkan pilihan pada ilmu politik. Setelah belajar dengan keras serta mempelajari soal-soal UMPTN dari 10 tahun yang lalu diriku dengan tegas menyatakan siap mengikuti ujian. Pengumuman hasil UMPTN kusambut dengan perasaan was-was, gundah menahan ludah dan… setelah kubolak balik Koran pagi itu tak ada satupun namaku yang tercantum. Nasib… nasib, lanjutkan hidup lagi deh! Kucarilah Universitas swasta dikota ini dan dengan berbagai pertimbangan kujatuhkan pilihanku pada Universitas Dr. Soetomo dengan melalui berbagai macam pertimbangan di fakultas hukum.
Setelah setahun berselang dengan perasaan setengah hati dan tanpa menyentuh buku sedikitpun… yah, jika lulus syukur, ngga lulus emang nasib, kuikuti kembali UMPTN dengan Universitas Airlangga sebagai tujuanku namun pilihanku hanya satu yaitu ilmu politik, kuanggap bisa dobel jika lulus ujian namun hal itu ditertawakan oleh petugas yang mengumpulkan formulir pendaftaranku, ya, masih kuingat tawanya sembari ia berkata “dengan hanya satu pilihan, jangan nangis ya kalo ga keterima” dan kubalas perkataannya dengan memasang raut muka mesem. Kan, apa yang dikatakan oleh petugas itupun salah, saat kubaca koran milik teman, dikos-kosannya setelah semalamnya kami “melanglang buana”. Sontak, “separuh jiwaku” segera kembali setelah melihat namaku tertera dengan cetakan yang agak buram. Segera kupulang dan menceritakannya pada siapa saja, hehe… lucunya bodohku namun sejak saat itu diriku menemukan kembali kepercayaan yang semakin tajam tentang makna ‘dimana ada kemauan, disitu ada jalan’ serta percaya, Tuhan masih membantuku. Ketika ku kuliah kembali kulupakan Tuhan karena kebanyakan mencari identitas diri dan mulai mempertanyakan Tuhan atau memang karena kebanyakan membaca tulisannya Nietzsche ya, hehe.
Ingatanku semakin melanglang buana saat harus mengikuti MK Himaprodi Politik (malam Keakraban) yang saat itu diadakan di nongko jajar (ditengah malam buta di hutan, aku bernyanyi sekeras-kerasnya lagunya Helloween “forever and one” dan lagunya Take That “back the tears” hehe… atas permintaan senior), tempat yang cukup curam dan lebih banyak menyiksa panitia sehingga saat giliran angkatanku yang memegang kendali sebagai panitia, kebetulan juga diriku sebagai ketua panitia, kuputuskan mengadakan MK di Coban Talun, lebih aman walau tetap saja banyak demitnya. Disela-sela menjalankan tugas sebagai panitia, diriku ikut mempressure peserta, yah, memanfaatkan keadaan. Hal itu semakin menjadi-jadi manakala angkatanku ditahun berikutnya memasuki fase pertama kalinya berlabelkan senioritas. MK tersebut bertempat di Jolotundo, wah, nenek moyangnya demit berkumpul disana, maklum dulu tempat pemandiannya orang-2 Majapahit. Senioritas itu pulalah yang membuat kami semakin tak terkendali sampai peserta yang kami anggap agak membandel kami suruh merayap melewati antara kedua kaki seluruh senior yang saat itu berjejer kebelakang membuat barisan ular naga panjangnya. Dengan aroma “air haram” yang memang dibutuhkan oleh dinginnya hawa alam, kami benar-benar merasakan kekuasaan itu. Tak heran sepulang acara MK sampai setahun berikutnya, ex peserta tak pernah mau menegur kami setimpal dengan gojlokan kami selama setahun memanggil mereka seenaknya.
Hehe… anak-anak yang baru masuk SPMB ini juga nantinya akan dikerjai seperti itu, sabar saja. Kusandarkan diriku, terhenyak, lalu lamunanku tersadarkan oleh suara tangisan anak ibu kos yang melempar berbagai macam barang dan berteriak kata-kata kotor pada orang tuanya. Hmmm… dik, kau sudah memulai pemberontakan pada orang tuamu yaa, tak kusangka secepat itu… masih kelas 3 SD.
Bisnis dan Sepak Bola
Banyak yang mencemooh, pembelian pemain Michael Carrick dari Totenham Hotspurs guna menggantikan posisi Jendral lapangan tengah yang ditinggalkan oleh Roy Keane oleh Sir Alex ferguson yang harga pembeliannya lebih mahal dibandingkan dengan penjualan Ruudtje ke Real Madrid hanya akan sia-sia belaka. Hal ini dikarenakan belum terujinya Carrick di level yang lebih tinggi seperti Champions League, UEFA Cup dan sebagainya. Tapi, itu perjudian yang masuk diakal mengingat usianya yang sebenarnya sudah masuk kategori matang dan bergabung pada club yang memang memberinya tempat untuk lebih banyak berkembang. Hanya saja, begitu banyak pemain muda yang setelah direkrut oleh klub besar kemudian gagal membuktikan kemampuannya sebut saja dari Mateja Kezman, Robbie Keane, Anelka dan segudang lainnya yang hanya memperlihatkan taji diawal namun melempem kemudian. Itulah industri sepakbola, ada yang gagal dan ada yang sukses, semuanya ditangan mereka sendiri.
Hai Pria Tua, Kuatlah
Castro, membaiklah dan saksikan evo morales bermain bola bersama lula da silva dan hugo chaves, tiadakah kau bisa mulai tersenyum, wahai pejuang tangguh…
Kutahu Tuhanmu berbeda dengan Tuhan yang kusembah tapi tahukah kau, selama dirimu berbuat kebaikan, berbuat untuk mensejahterakan lingkunganmu dan melawan kejahatan, kan ku doakan dirimu dan bangsamu diberkati selalu.
Kata Mereka Sih!
“Apa yang kita alami demi teman kadang-kadang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah”
“Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan bertumbuh bersama”
“Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi membutuhkan proses yang panjang seperti besi menajamkan besi, demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya”
“Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur-disakiti, diperhatikan-dikecewakan, didengar-diabaikan, dibantu-ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian”
“Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur apa adanya”
“Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mau berubah”
“Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha pemeliharaan dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih dari orang lain, tetapi justru ia berinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya”
“Kerinduannya adalah menjadi bagian dari kehidupan sahabatnya, karena tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis”
“Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya. Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya”
“Tetapi penghancur persahabatan ini telah berhasil dipatahkan oleh sahabat-sahabat yang teruji kesejatian motivasinnya”
“Mempunyai satu sahabat sejati lebih berharga dari seribu teman yang mementingkan diri sendiri”
“Dalam masa kejayaan, teman-teman mengenal kita. Dalam kesengsaraan, kita mengenal teman-teman kita. Ingatlah kapan terakhir kali anda berada dalam kesulitan. Siapa yang berada di samping anda??. Siapa yang mengasihi anda saat anda merasa tidak dicintai??”
“Siapa yang ingin bersama anda pada saat tiada satupun yang dapat anda berikan??. Merekalah sahabat-sahabat anda”
“Hargai dan peliharalah selalu persahabatan anda dengan mereka. Karena seorang sahabat bisa lebih dekat dari pada saudara sendiri”
Sunday, August 6
Diriku pada peradaban semu
Ditengah malam ini sekembalinya dari keliling kota tanpa tujuan yang pasti kecuali singgah sebentar untuk mengisi perut yang sudah mulai keroncongan, diriku mencoba mencari kesibukan mengingat rasa kantuk itu belum juga kunjung tiba. Sembari memasak air panas yang nantinya hendak kubuatkan secangkir kopi khusus menjaga kekuatan pijaran mataku nantinya tak redup disela keterjagaanku. Kunyalakan tivi menggunakan remote control lalu ku nikmati kekuatan dan penguasaan sejati terhadap mainan harianku ini, memindahkan channel tanpa henti namun yang kulihat hanya tayangan yang mengumbar selangkangan dan sekitarnya.
Dari program acara yang hampir kesemuanya memberikan pelajaran membangkitkan gairah ditengah malam, diriku lebih menjatuhkan pilihan pada program sepakbola. “Aha, ini dia yang sudah sebulan jarang kulihat lagi, menunggu musim yang baru bergulir”, sambutku menatap Amsterdam Tournament, pertandingan sepakbola pre-season yang diikuti 4 tim dari liga yang berbeda tiap tahunnya semenjak 1999, hm… kucinta sekali budaya popular ini, seperti semua orang, bagian dari industri, hahaha, ku puas. Air panas yang penuh dengan uap dan sudah menggurak dalam bahasa banjar berarti mendidih, mulailah kubuatkan kopi untukku sendiri serta merta kuyakinkan diri dan memantapkan hati telah menjatuhkan pilihan pada program acara sport yang benar-benar sport bukannya tayangan “sport” yang itu. Ah, mediaku, haruskah kulalui system pers yang liberal ini menuju ke system pers yang bertanggung jawab?. Sekali lagi, kusadar, diriku haruslah konsumen yang wajib kritis untuk mengangkat kehendak menjadi penguasa dalam menentukan tayangan yang terbaik bagi diriku, akulah raja atas remote control dari tv bututku, hahaha…. Pssssttt, hmmm… indahnya hidup didunia kapitalistik ini.
Setelah tayangan ini selesai, apakah yang hendak kulakukan, ah, biarkan saja tubuhku melayang dikerasnya kasur yang seharusnya empuk, seharusnya! Mengapa tidak kupasang saja program winamp di PC dengan lagu ‘hawaiian welcome’ dan ‘mysterious girl’-nya Peter Andre berulang-ulang. Lumayan, aku bisa segera tertidur pulas, membiarkan setan terbang bebas meninggalkan tubuhku sebentar saja dan kembali menakutiku lagi setengah hati, menakuti koq nanggung!
Saturday, August 5
Innalillahi Waa Innalillahi rojiuun
Telah berpulang ke Rahmatullah, hari kamis, 4 agustus 2006, guru besar ilmu politik UGM, Riswandha Imawan, semoga arwahmu diterima disisi-Nya dan segala pengabdianmu berguna bagi bangsa ini, selamat jalan elang merapi, selamat jalan...
Bagiku, Bunga Itu Takkan Pernah Layu
Gadis, aku meradang
Kadang rasaku terhunus pedang
Sering bahkan berubah beku meragu
Laras asa menyatu membelenggu
Suaraku, kau tak pernah tanggapi
Ku paham, kau tak ingin diganggu lagi
Janji ini tak lagi memiliki tepi
Penantian ini bukan lagi surgawi
Kau halangi kendaliku
Kau ludai rasa respekku
Kau nodai harmonisasiku
Kau lukai kekerabatanku
Nona, kapankah kau kembali
Sudikah kau mampir disanubari
Ingin sekali mendengar kau menyapa kembali
Aku disini tak pernah pergi, masih menanti
Walau kutahu pasti,
Semua memiliki caranya sendiri untuk terjadi
Begitulah kehidupan,
Melangkah dari anugerah busuknya kotoran
Hilangkan kecemasan, kebencian, kepedihan dan penderitaan
Ku tersenyum dan banyak memberi agar manusia lebih memiliki arti
Meski tetap saja dirimu meninggalkanku penuh dengan penyakit
Ku tetap memelihara kehadiranmu dalam hati, selalu
Sadarkanlah
Gugah kepedulian batinku
Diriku bukanlah kumpulan raja dan dewa-dewi
Kekuatanku terbatas
Kupaham dan sadar, kau membelenggu kebebasanku dengan ilusimu
Sebuah konsekuensi yang harus kuterima dan jalani
Senja Menggema
Sejenak ku termenung,
Kuingin rasakan tamparan alam dibatas dunia
Hm, senyum simpulku menahan gundah kelana
Memecah kebisuan yang lama tercenung
Ku dengungkan bait yang tak kunjung merenung
Melanglang meratap tak bergerak
Oh, kaum setan…
Kau ajak diriku kembali menari diatas permukaan air
Percuma, tidak kali ini, aku menolakmu
Aku tak mau terjebak diantara dua dunia
Ruang dimensi bangsamu bukanlah bagian diriku
Sudah waktunya kita berpisah
Biarlah kita berdiri didunia kita masing-masing
Biarkan kunikmati keindahan ini tanpa kau ganggu
Sekali ini saja, ku ingin duduk lama didermaga!
Nirwana itu penuh bencana
Durjana datanglah,
Hempaskan keserakahan kami
Hanyutkan kekhilafan kami
Hancurkan kerakusan kami
Wahai binasa
Bencana datanglah,
Korbankan kemiskinan kami
Kutuklah kesederhanaan kami
Kosongkan kebahagiaan kami
Wahai kuasa
Lakukanlah, biarkan saja
Keterpurukan dalam ranah surgawi
Kesedihan dalam dwipa ramah pertiwi
Keikhlasan dalam riak pasrah rahwana
Relakanlah, tuluskan raga
Oh, mahkota kencana
Sembunyilah lari beribu bunyi dikeheningan lara
Biarkan mereka datang menyemarakkan pesta duka cita
Pastikan jiwa ini menyembah dirimu, Tuhanku bumi yang baru
Ya, kuburlah hidup kebanggaan dan kebesaran bangsa-Mu
Sudah saatnya kami dilupakan, alam
Harkat birahi menenggelamkan bara qalam
Oh, malaikat maut, ku tabah, cabutlah
Kurela tubuhku kau tukar barunya semaian benih
Bagi masa depan yang lebih bersih, Insya Allah
Anak Itu dan Kambing
Kaget sebenarnya melihat seorang yang bernama Endira, vokalis dari grup Flopi ikutan Dream Band 3 di salah satu televisi swasta. Tapi, tidak ah, anak ini emang udah gila dari pertama ku mengenalnya. Teman seangkatanku mengatakan dahulu dikala Endira pulang Sekolah ia seringkali melihat si Endira mengajak bicara kambing-kambing, ah.. aku juga begitu dulu. Setelah mengenalnya baru kusadari anak ini ada yang sedikit tidak beres namun sangat asyik untuk menjadi teman. Sampai pada satu tahun yang lalu kulihat dirinya memakai jilbab dengan menggandeng seorang anak, wow, ternyata itu memang hasil buah kasihnya. Syukurlah, gilamu sudah sembuh nona, anakmu memerlukanmu dalam kondisi yang beres, pikirku. Tak dinyana, kulihat ia kembali diacara DB 3 menggenakan kostum dan berperilaku seperti dahulu sekali…. Tergelak, serta merta kukatakan… oh, nona, gilamu emang kumat lagi tak tersembuhkan. Semoga kau terkenal nak.
Friday, August 4
Angin, Kugunakan Dirimu
Angin, terbangkan jiwaku
Buai aku dalam dekap lembutmu
Bawa aku menuju penantian hatiku
Andai ia mendengar hasratku
Angin, tiupkan tubuhku
Bantu aku hadir berdiri dihadapannya
Beritahu aku ia masih menginginkanku ada
Andai ia berharap memintaku
Angin, diriku memaksamu
Satukan hidupku kembali bersama alam
Biarkan semilir hembusanmu menggodaku
Sertakan diriku melewati lembah yang curam
Bawakan keindahanmu yang kupuja selalu
Angin, turunkan aku kali ini
Akan kupijakkan dunia dari tanah pertiwi
Akan kubuktikan, berharap hanya menyakiti diri
Akan kupastikan mereka tunduk mengakui
Angin, kupersalahkan dirinya
Mengapa membalas rayuanku
Angin, kupersalahkan diriku
Mengapa membalas sayangnya
Angin, hidupkan ruang waktumu
Tikam mati indah kesucian ini
Andai dirinya masih menungguku
Kan kujaga api abadi ini sepenuh hati
Angin, singkirkan ia dari tubuhku
Buang angan dan mimpi dari otakku
Singkirkan perasaan dari lubukku
Hempaskan pikiranku tentangnya, ia hanya benalu!
Dari diriku yang masih cemas, apakah keberpihakan angin cukup pantas……
Sungguh ironi, rokok sudah lama kutinggal mati, tinggal kopi, TV dan PC……
Pos Lagi dan Bahan Candaan Setan
Malam ini aku kembali ke bekas rumahku yang dulu, yahh sekedar bermain-main sekaligus mengecek apakah ada kiriman buku dari Brussel, Belgia yang sudah kupesan seminggu sebelumnya dengan menggunakan alamat rumahku yang dulu dan memang ternyata ada. Lalu, aku mencoba singgah di pos jaga perumahan di blok D yang beberapa penjaganya kukenal sejak lama. Kebetulan ada seorang penjaga yang bernama Pak Elon yang asli Papua sedang tidur-tiduran. Kucoba menemaninya walau kutahu ia sudah banyak yang menemani, para nyamuk-nyamuk.
Ia pun segera bercerita mengenai kehidupannya semasa masih kuliah dulu yang memiliki teman-teman pandai dalam hal bercerita, bohong tentunya. Baru kutahu ternyata Pak Elon pernah kuliah namun aku tak bermaksud untuk bertanya mengenai kehidupan pribadinya, lebih baik aku menjadi pendengar yang baik saja. Ia menceritakan mengenai seorang temannya yang bernama Willem yang sukanya bercerita dan suka melebih-lebihkan hal yang sebenarnya tak juga terjadi. Tak sadar setiap cerita itu membuatku tertawa terbahak-bahak, tawa yang menurut orang tua dan teman-temanku persis tawa setan!, ah, masa bodoh. Akan sedikit saya ulangi cerita itu, si Willem sautu saat akan kembali ke manokwari dengan menggunakan salah satu kapal laut dari PELNI. Ia diantar oleh seorang temannya yang benama Lusi.
Pada saat mereka masih berada didalam kapal dan tak sedikitpun mengidahkan seruan untuk turun bagi bukan penumpang maka mereka tak tahu bahwa tangga-tangga yang diperuntukkan bagi jalan keluar dan masuk kapal sudah mulai dipisahkan dari kapal. Lusi tersadar manakala ada seorang penumpang yang mengatakan padanya “akhirnya, kapal sudah akan berangkat”. Segera, muka lusi terlihat jelas pucat pasi dan tanpa dikomando dengan ditemani oleh Willem, menuju pintu keluar. Disana, tangga yang harus dilaluinya sudah terlepas dan berjarak kira-kira 1 meter. Untungnya, ada petugas yang kemudian dengan bantuannya si Lusi dapat segera naik ke tangga setelah diperintahkan oleh petugas itu untuk merapatkan kembali tangga tersebut. Walau begitu, Lusi yang masih terlihat pucat masih saja tidak sigap dan saat akan meloncat ketangga yang sudah dekat dan hanya berjarak kira-kira setengah meter, ia lalu terjatuh ditangga dan kain celananya tersangkut dibesi tangga walau tidak ada luka yang dihasilkan dari kejadian tersebut. Namun, hal itu tentu saja menjadi tertawaan seluruh orang-orang yang melihatnya meski sebelumnya sempat bersimpati.
Dasar si Willem, sesampainya di manokwari, ia menceritakan hal yang berbeda 180 derajat. Dalam ceritanya pada teman-temannya, si Lusi tak rela berpisah dengan Willem sehingga saat kapal tersebut akan berangkat si Lusi menahan kapal tersebut sehingga untuk beberapa saat kapal itu tidak dapat bergerak. Begitulah ceritanya berakhir, ah, aku jadi teringat bertahun-tahun yang lalu, begitu banyak sekali orang-orang yang begini, pembual si mulut besar karena pandai mengarang cerita namun kami memerlukannya untuk mengusir kesunyian, tanpanya tidak ramai keadaannya. Korban dari pembual itu tentu saja mereka yang baru mengenalnya dan segera mempercayainya namun kami, seperti biasa, selalu sakit perut menahan ketawa.
Miss, U Miss
Sedikit saja mengenai pemilihan miss universe dan keikutsertaan wakil dari Indonesia yakni Nadine Candrawinata, lama sudah kutahu saat ia masih bersaing dengan Valerina Daniel memperebutkan title Putri Indonesia dikancah domestic tanpa bermaksud meniadakan kontestan yang lain dan urutan nomor 2. Ingin sekali kusatukan mereka berdua dalam sebuah wujud kesempurnaan itu, otak Valerina Daniel dan tubuh Nadine Candrawinata. Tentu saja, Valerina tidak akan menang dengan tubuh seperti itu walau otaknya lebih terupdate dengan posisinya sebagai journalist dan tentu saja Nadine-lah yang berjaya meski yang dikatakannya sangat tidak istimewa saat menjawab pertanyaan juri.
Alhasil, ketika bersaing di ajang Internasional, Nadine mengucapkan Indonesia sebagai sebuah kota…… oh, Nadine, lebih baik kau berbahasa Jerman saja!. Dengan kesalahan fatal tersebut, masih saja kami berharap dirimu masuk ke 20 besar hanya karena Mr. Trump memilih dirimu untuk berpose sebelum kau keseleo lidah, kuharap sih. Semakin saja, ku percayai bahwa mereka yang indo mendapatkan kelas yang lebih terhormat dalam masyarakat kita dan kita menjadi gila hormat manakala berhadapan dengan mereka yang bule. Oh, ada yang salah dengan budaya kita, telah lama berselang dan masih saja dilanggengkan!.
Pos dan Negara
Beberapa hari yang lalu sekitar jam 8 malam, aku kembali ke bekas rumahku bukan untuk menengok karena kangen. Bukan, hanya pergi ke pos jaga disekitar rumahku di blok D mencari Pak Yanto, seorang pria yang kuduga berumur mendekati 40 tahun dan belum menikah. Kakakku pernah mengatakan kalau Pak Yanto adalah sosok pria yang sadar akan kesendiriannya dan tak mau membebani disaat belum mapan dalam hidupnya. Tak tahulah aku, yang kutahu ia pernah melanglang buana ke hampir seluruh tanah jawa termasuk ibukota.
Ia salah satu orang yang mau menerima ajakan keluargaku untuk mencari penghidupan di manado, setidaknya ikut membantu beberapa usaha orang tuaku dari perkebunan sampai beberapa yang lainlah. Entahlah, keluargaku mudah saja percaya pada orang meski baru dikenal sekalipun dan suka membantu tanpa imbalan. Dari dulu kutahu memang itu sudah menjadi watak orang tuaku,kata mereka itu turunan entahlah apakah itu menurun padaku, yang jelas bukan aku yang menilainya. Aku percaya pada Pak Yanto bukan saja ia rajin dan memang baik namun lebih dari itu, walau ia berasal dari keluarga yang tidak terdidik namun ia dengan mudah dan cepat mencerna dan menyambung pembicaraanku sedikit hal yang berbau ‘berat’ dari masalah ekonomi, budaya, social, politik dan global.
Akhirnya, kutahu bahwa ia sering mengikuti perkembangan terkini melalui koran saat makan siang dan berita dan acara talk show di malam hari. Dari hal tersebut, ku semakin yakin bahwa pengetahuan memang harus dibagikan kepada siapa saja, pendidikan harus bisa didapatkan oleh siapa saja, informasi dan teknologi harus bisa diakses oleh siapapun dan lebih daripada itu, kesejahteraan harus wajib didapatkan oleh siapapun tak terkecuali, secara gratis dan itu menjadi tanggung jawab Negara!.
Mini-Motor
Saya teringat kembali tatkala sedang menonton berita tengah malam di salah satu stasiun TV swasta mengenai trend terbaru berkendara minimotor di Inggris. Sekitar 3 minggu yang lalu, saya menyempatkan diri membelikan adik saya sebuah minimotor untuk bisa dibawa ke manado karena keesokan harinya harus segera dikirim dengan container sebagai bagian dari barang-barang pindahan rumah. Saat itu, minimotor yang dijual hanya tersedia dalam 3 buah motor dengan 3 warna yang berbeda pula yakni kuning, biru dan hitam. Setelah cukup lama mengamati dan mencoba ketiga motor tersebut maka saya menjatuhkan pilihan pada mini-motor berwarna hitam.
Dengan kerangka dasar besi dan fiberglass serta bermesin pemotong rumput dan berbahan baker bensin campur sedikit oli persis seperti yang saya lihat tadi malam di Inggris, kupulang kerumah dan membayangkan perasaan adikku. Yaa, adikku memang sangat gembira dan senang sekali, tak bisa kugambarkan lebih lanjut perasaanku saat itu yang kuingat air mataku sedikit berkaca-kaca menyaksikan ia bahagia.
Walau tentu saja daya kritisnya muncul dengan tiba-tiba ia bertanya mengapa sepeda motor ini berwarna hitam dan bukan seperti yang dipakai rossi yang berwarna kuning maupun yang dipakai dani pedrosa berwarna oranye atau mengapa tidak mencari warna yang biru sesuai dengan kesukaannya?. Pertanyaan itu sudah ku antisipasi sebelumnya, dengan lugasnya kukatakan bahwa warna tersebut tidak ada, kupasang mimic serius dan agak membujuknya agar ia menuruti kehendakku walau dalam hati aku mengaku ‘dik, maaf ya kakakmu sedikit berbohong’. Ia kembali bertanya, ‘lalu, siapa pembalap yang memakai sepeda motor berwarna hitam ini?’ dan ‘kapan, eyas dibelikan helm dan baju balap?’. Dengan sedikit cengengesan dan miris, kukatakan ‘iya, besok kakakmu belikan kan sekarang sudah malam, sudah tidak sempat lagi dan yang memakai motor warna hitam itu pembalapnya bernama carlos checa’ ia pun tersenyum. Aha, kutahu senyuman dan perasaanmu itu adikku, aku pun pernah mengalaminya’.
Satu hal yang kutahu pasti, kau jauh lebih berani dan tidak takut apapun karena dirimu lahir dari orang tua yang tidak mengenal takut kecuali Tuhan, setan sekalipun!
Ungkapan Jujur Seorang Anak
Beberapa tahun yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah. Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah. Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk melamun. Prestasinya kian lama kian merosot. Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika:
"Apa yang kamu inginkan ?" Dika hanya menggeleng.
"Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?" tanya saya.
"Biasa-biasa saja" jawab Dika singkat.
Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog. Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah untuk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya. Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas). Dimana skor untuk aspek-aspek kemampuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 -160. Namun ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas). Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah yang menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh sebab itu psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian.
Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat kemampuan verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika. Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal. Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan "Aku ingin ibuku :...." Dika pun menjawab : "membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja" Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas. Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif sehingga saya merasa perlu menjadwalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game di komputer dan sebagainya. Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya, Dika perlu menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit. Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana : diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya. Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan "Aku ingin Ayahku ..." Dika pun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya "Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan sesuatu" Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua. Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan "Aku ingin ibuku tidak ..." Maka Dika menjawab "Menganggapku seperti dirinya" Dalam banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras, disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil. Ketika Psikolog memberikan pertanyaan "Aku ingin ayahku tidak : .." Dika pun menjawab "Tidak menyalahkan aku di depan orang lain. Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa" Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya. Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa. Ketika Psikolog itu menuliskan "Aku ingin ibuku berbicara tentang....." Dika pun menjawab "Berbicara tentang hal-hal yang penting saja". Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan gurunya. Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya. Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur itu saya dingatkan bahwa kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu pengetahuan. Atas pertanyaan "Aku ingin ayahku berbicara tentang .....", Dika pun menuliskan "Aku ingin ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahannya. Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadaku". Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia, orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya dan kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua kepadanya. Ketika Psikolog menyodorkan tulisan "Aku ingin ibuku setiap hari....." Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar "Aku ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk adikku" Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih. Secarik kertas yang berisi pertanyaan "Aku ingin ayahku setiap hari...." Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata "tersenyum" Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari. Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku...." Dika pun menuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus" Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Nang. Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata "Lanang" yang berarti laki-laki. Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi "Aku ingin ayahku
memanggilku .." Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu "Nama Asli". Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan "Paijo" Karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan logat Jawa medok. "Persis Paijo, tukang sayur keliling" kata suami saya. Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu karena selama ini saya bekerja di sebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan "To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choice" sebuah seruan yang mengingatkan bahwa "Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan".
Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena telah memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan bermartabat. Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang jengkel, ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan. Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para orang tua tidak boleh membangkitkan amarah didalam hati anak-anaknya. Para orang tua harus mendidik anaknya di dalam ajaran dan nasehat yang baik. (Ditulis oleh : Lesminingtyas)
Selamat Hari Anak Nasional 23 Juli 2006